Sudut Hati Di hari Yang Hujan
Kamis 15 Nov 07.
Siraman pekat tinggi sinar mentari semakin meniti di pagi hari.
Cerita hari ini tentang keteguhan nurani bagi saudari.
Sudut sanubari yang menari bersama prasasti kesabaran sejati.
Orientasi dari seorang pencari akan kebenaran yang hakiki.
Keindahan kasih sayang akan toleransi hubungan yang Islami.
Di anjangsana ku merana, disetiap air mata ku tetap membaca.
Diantara bahasa hari-hari dan langkah-langkah yang hilang.
Sudut-sudut diskusi pun menjadi tak berarti.
Apalagi yang harus dimengerti, hari-hari tak jauh lebih berarti.
Disetiap malam menyendiri merangkum kesepian tanpa keberanian.
Andai saja bisa kurangkai angkasa dengan aksara dan kutuang semua dengan batas maksimal
agar bisa dimengerti dengan tutur nada bahasa yang pernah ada.
Hanya waktu yang akan melukis cerita di dunia membasuh luka, suka dan duka dan akan senantiasa menjadi canda tawa.
Di kehadirat Illahi kubertahan dengan telapak tangan kuberteguh.
Berlutut bersujud lalu bersimpuh, merasakan harmoni lalu mereduksikan ego kedalam hegemoni.
Dengan iman yang menyejukan nurani, sikap instrospeksi jati diri untuk sudut hati.
Dibatas waktu serahkan diri ini, memohon untuk restui rencana perjuangan takdir esok hidup ini.
Jika dapat kubentangkan mimpi lalu direstui dan izinkanku menjinakan duka,
maka akan kutelusuri setapak demi setapak takdir Illahi.
Hari yang hujan, seakan setiap tetesan air ikut bertasbih KepadaNya.
Para malaikat tersenyum memandang anak manusia yang belajar untuk mencoba memahami arti intonasi dari AnugerahNya.
Gemuruh guntur menyuarakan AsmaNya memecah keheningan perhelatan dua anak manusia.
Sejak lahir hingga menutup mata anak manusia ditakdirkan untuk memahami arti kasih sayang dari ajaran yang Rahmatan Lil’Alamin.
Membuang segala trend kasih sayang dunia, menjalankan fanatisme cermin dari Muslim sejati.
Trend dunia akan detonasi hormon salah kaprah yang mereka anggap sebagai intuisi
dengan mengesampingkan norma yang diagungkan sebagai arti kasih sayang.
Fasis baru timbul dengan topeng yang bernama Valentine, menjajah intelektual Muslim sejati.
Sebuah lafas “Cinta” tiada artinya dibandingkan lafas agung “La’Illaha Ilallah”,
sebuah lafas yang jika ditimbang dengan Mizan maka lebih berat dari 7 langit dan 7 samudra.
Surga sejati memang kami inginkan tuk pergi bersama.
Namun apakah kami telah pantas menyandang sebagai ahli surga?
Jika ibadah kami hanya untuk mengharapkan SurgaMu, maka haramkanlah bagi kami untuk memasukinya.
Jika ibadah kami hanya karena takut akan NerakaMu, maka masukanlah kami kedalam neraka TerdalamMu.
Jika ibadah kami semata untuk mensyukuri NikmatMu atas apa yang telah diberikan kepada kami dan rasa sayang kami KepadaMu,
maka izinkanlah kami untuk memasuki SurgaMu dari pintu manapun yang kami mau.
Biarkan detik ini berjalan dan waktupun akan bicara,
indahnya cerita yang menghiasi arti perjalanan kami.
Kadang pula suka dan duka memiliki wejangan yang jauh lebih bermakna.
Bersama suka aku akan senantiasa mensyukurinya.
Bersama duka aku akan mengambil hikmahnya.
Mengevolusikannya sebagai makna.
Cinta kasih yang menyusuri disetiap mimpi dan harapan yang menggarisi cita-cita.
Langkah kadang begitu hampa terlalu dingin dan tak bersuara.
Hingga disuatu saat nanti perjalanan ini akan segera berakhir dan tak perlu lagi ada suka duka.
Seperti saat kita bersama, saat kita bersama menikmati suka dan menaklukan duka.
Dari seorang anak manusia yang tak pernah melupakanmu dan kalian semua….




Posted by iRene on 13,March,2008 at 3:12
eHmm… kabar baik om, kayanya ada yang gi dalem nie hihihi
Posted by dbunshin on 13,March,2008 at 9:25
heheh bahasanya… ga kuku