Populis, Liberalis, Kabalis… Whatever!
Budaya Populis Yang Teradiktif Oleh Budaya Liberalis Dibalik Strategi Kabalis.
Ini adalah pemikiranku dan semoga aku tak akan pernah terkontaminasi.
Aku adalah aku dan persetan jika kau tak suka kepadaku..
Pembodohan intelektual dan akhlak melalui megahnya sinema layar lebar diantara menjamurnya ruang penayangan pembodohan
yang makin tersebar di dalam selongsong propaganda Fasis serentak,
dan proporsi batas definisi agama dan kulturasi ketimuran kembali ke sudut O, 180 derajat lebih tolol dan kembali kepada batas-batas Jahiliyah,
mengkontaminasi intelektual dengan sensasionalnya Populis tanpa minyak rem yang memicu sumbu resensi propaganda kemunafikan Liberalis
dengan dalih rutinitas lalu perlahan membentuk Pluralis bagi kemenangan Liberalis.
Sejarah penjajahan atas nama ruang sinema dan segala sampah estetika,
para penikmat megahnya gempita budaya pitcecantrophus, idiot yang malah mengadopsi primtif perilaku praktisi megantrophus.
membuat sisi religius menjadi mampus, hilang dan berjalan tanpa arah seperti ingus.
Jika gencar seranganmu seluas padang gurun maka aku adalah kaktus, tegar tak akan hangus terberangus,
aku adalah kacamata tanpa filosofi yang tak perlu sensus,
aku adalah kontribusi yang akan membabat setiap langkah logika doktrin jambanmu hingga putus.
Tujuan besar Kabalis yang mensetir budaya Liberalis dengan propaganda media maya layar lebar,
dibalik “Mission Impossible”, “The Pianos” dan “Saving Private Ryan” yang berkonotasi perdamaian untuk penikaman dari belakang.
Kontribusi pengecut yang coba bermasik dibalik gemerlap lampu Hollywood dan gema ruang penayangan pembodohan.
Pembenaran logis akan doktrin nasib praktis yang telah tersedia lalu terkapsulasi dengan media sinema, maka persetan dengan kebudayaan Populis
dan Kapitalisme yang membidik sisi Agama lalu merayu menjadi pecandu Konsumeris.
Kafir yang melempar granat pemikiran Tuhan dan Duniawi, ruang dialektika dan mimpi para pembual yang mensubversi pragmatis pemikiran duniawi melekat,
membuka pemikiran tanpa bisa membedakan aturan atau kesesatan, membusukkan implementasi diatas kancah prioritas generasi.
Aku adalah modernitas puritan yang menolak dialektisi semu tanpa perumpamaan,
Demonstrasiku bergerak tanpa Almamater, menghembuskan nafas aksara yang melawan strategi pembodohan rutinitas sandiwara dibalik layar lebar,
mimpi revolusi Liberalis najis yang kronis serta ditunggangi langkah Kabalis..
Kiasan layar lebar yang mendoktrin alam bawah sadar dengan Fasis dibalik dalih gelagat proporsional yang sok Anti Rasis
dan membenarkan ketololan maksiat dengan seni sampah estetika kemudian secara perlahan membunuh intelektual akidah,
menewaskan 15 menit yang berharga untuk surga dengan 3 jam yang tak berguna untuk neraka.
Lebih baik miskin logika daripada miskin akidah, karena akidah adalah aktualita perlawanan diatas orientasi pahala.
Kalian yang membawa bensin dan korek api maka akulah yang membawa parang dan tak akan pernah membuat kalian tertawa di atas lehermu…
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia…
BUKAN SEKEDAR SLOGAN!



