
Serat Centhini merupakan sebuah karya penting dalam sastra Jawa yang ditulis pada abad ke-19 yang menggambarkan bagaimana agama Islam berkembang di jawa, terutama oleh lapisan elit dalam masyarakat Jawa. Suatu kisah yang menceritakan mengenai percampuran antara Islam dengan budaya lokal Jawa. Dan Serat Centhini ini di tulis untuk di tembangkan, dalam sastra Jawa kuno, suara dianggap wahyu yang merasuki penyair untuk melahirkan irama mengiringi pujangga memasuki kata-kata dalam serat Centhini, sudah dapat di bayangkan betapa indahnya tembang ini.
Meski demikian, satu hal yang menonjol meski masih tersamar, yakni betapa orang Jawa yang sudah mengenal Budha dan Hindu bisa menerima agama Islam dengan damai. Ini terbukti ketika dalam salah satu tembang dalam buku ini dikisahkan bagaimana Amongraga yang sudah menjadi Da’i (dia belajar Islam di Mekkah) itu menyingkirkan patung dewi Sri dan Sadono dari kamar pengantinnya karena itu dikatakan sirik. Dan orang-orang Jawa yang lainnya tidak bereaksi sama sekali.
Tembang yang terdiri dari ribuan syair itu pada awalnya berjudul “Suluk Tembangraras”. Namun kemudian lebih populer dengan nama “Serat Centhini”. Centhini adalah nama seorang abdi dalem yang setia pada majikan dan tidak lelah mengabdi menjaga tuannya.
Ia seolah melupakan dirinya sendiri dan begitu mengabdi pada para junjungannya, sehingga dia melebur menjadi suluk itu sendiri. Penulisannya dimulai pada tahun 1809 Masehi. Serat Centhini ditulis untuk ditembangkan atau dinyanyikan. Penyair sastra Jawa Kuno ini dengan gemilang berhasil menyesuaikan macapat, irama dan nada kata menjadi terdengar indah dan merdu.
Buku Centhini – Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, karya Elizabeth D. Inandiak ini tercipta atas prakarsa Mantan Dubes Perancis untuk Indonesia Thierry de Beauce, yang terpesona oleh kisah Centhini dan Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, sebuah buku saduran yang mengisahkan salah satu kisah didalam Serat Centhini pun tercipta.
Salah satu bagian yang istimewa dan mengandung ajaran sufisme adalah pupuh yang mengisahkan pengantin baru yang bernama Putra Mahkota Sultan Giri yang bernama Syekh Amongraga dan istrinya Tambangraras. Mereka berdua melewatkan 40 malam dalam kamar pengantin tanpa bersetubuh. Dikisahkan bahwa selama 40 malam Tambangraras berzikir dan diam. Selama 40 malam Amongraga memberi pelajaran kepada istrinya, terucap dalam syair-syair yang sangat indah.
“Oh, Wangiku! seandainya kau berusahan mencari rasa di cakrawala, kau tidak akan menemukannya. Di atas bumi dan di bawah bentangan langit, tidak ada yang menyamainya. Rasa adalah manis di lidah, rabaan di kulit, bunyi di telinga, sari di sungsum, bau-bauan di hidung, makna di kepala, gerak di hati, penglihatan di mata. Rasa itulah rahasia yang di capkan Allah di kalbu. Karena rasa mengenali.”
Amongrogo kepada Tembangraras
Terdapat pula syair-syair yang bersifat cabul, yang terangkai indah oleh keanggunan tembangnya. Di akhir tembang, di kisahkan kesedihan Amongraga yang harus meninggalkan istri tercinta untuk mencari saudara perempuannya, di lukiskan dalam syair.
“Kekasihku, di jalan ada perjumpaan dan sua kembali. Tetapi kita berjalan sendiri-sendiri. Kubawa ragaku menempuh kemegahan Suluk, dan kamulah tembang laras suluk itu. Kau mengira aku pergi, padahal aku mengembara di dalam dirimu.”
Berikut dari Tembang 90 Selengkapnya :
“Ketika malam ke-19 tiba, Amongranga telanjang dan duduk bersila di buritan ranjang: “Ketahuilah Dinda, setan berada di dua kediaman, pertama di dalam kenikmatan raga, kedua di dalam sekarat. Sebenarnya keduanya satu neraka tunggal dan sama. Saat tubuh kekasih bersanggama dengan tubuh terkasih, dalam kilat kenikmatan, roh ditelan raga dan padam. Kenikmatan itu disebut kematian kecil.
Juga saat sekarat, bila pikiran penuh amarah dan kangen pada tubuh sekarat, roh ditelan raga dan didekap dalam maut. Neraka adalah roh yang tersekap dalam raga yang membusuk.
Dinda, dalam bercinta, tubuh haruslah kita jadikan bait untuk berbicara pada roh. Cinta adalah karya agung yang mengubah raga menjadi nafas. Itulah jalan kematian besar, kenikmatan di luar kenikmatan tubuh.
Di haluan ranjang, Tembangraras gemetar dan berkata, “Oh, Apiku, aku mendengar dan berkenan. Semoga roh kita segera memadu cinta dengan tubuh kita! Lihatlah, kata-katamu telah tersemai di ragaku dan perhatianku menyuburkan wacanamu!”
di balik sekat berkerawang, Centhini merasakan malam di atas ranjang bidadari undur diri sebelum pudar.”
Lihatlah, betapa indahnya sang pengarang menyampaikan pikirannya. Bahasanya penuh metafora.
Berikut dari Tembang 112 Selengkapnya :
“Di ranjang bidadari, Amongraga telan**ng dan duduk bijaksana dalam padma merah istrinya. Demikian mereka diam berpelukan sepanjang malam, waspada dan pasrah, satu dalam lainnya.
Centhini keluar di pagi buta mengabarkan kepada Ki Panurta dan isterinya bahwa selaput dara tuan putri Tembangraras telah koyak.”
Mungkin agak membingungkan. Supaya jelas, saya kisahkan lagi secara ringkas. Setelah menikah, sampai malam ke-40 Amongraga dan Tembangraras tidak melakukan hubungan suami-istri (ratum et consumatum). Malam-malam itu dilalui dengan belajar berbagai macam hal, dan Amongraga adalah gurunya, sementara si Tembangraras menjadi pendengar yang baik. Tembang 90 yang saya kutip utuh di atas merupakan bagian dari pelajaran itu. Mereka bisa menahan diri, meski pada malam-maam itu mereka sudah saling melihat tubuh masing-masing karena memang dibiarkan terbuka dan polos.
Centhini adalah sang abdi yang sungguh mengabdi kepada junjungannya. Satu hal yang lucu dari Centhini, sekaligus menunjukkan pengabdiannya, dia setia menguping tiap malam suara apa yang keluar dari kamar junjungannya si Tembangraras dan Amongraga. Kalau pengantin jaman sekarang, mungkin si Centhini sudah di gampar.
Bangga rasanya mengetahui Serat Centhini dapat di sejajarkan dengan karya sastra dunia lain nya, tapi sangat ironis kenapa malah pemerintah Perancis yang bersedia menduniakan karya sastra ini, bukan kita ?
dari berbagai sumber