Hari mulai malam aku masih menapaki jalan bersama Fingolfin dari Noldor menuju Yggdrasil yang tertinggi. Perjalanan ini sangatlah panjang, ibarat sepanjang sungai Anduin yang membentang dari utara hingga selatan benua dunia tengah. Di tengah perjalanan kami berhenti di kedai makan di wilayah Valinor, uniknya kedai ini menyajikan tongseng tupai dan wedang alang-alang ramuan ala mbah Kohir. Di kedai tersebut kami duduk di beranda, di meja besar selasar tengah terlihat duduk sekitar 20 orang dengan pakaian yang unik, sepertinya mereka adalah rombongan para penghibur keliling yang mengembara ke seluruh penjuru dunia.
Fingolfin tertarik dengan rombongan tersebut dan mendekat untuk sekedar tegur sapa, tak lama kemudian Fingolfin memanggilku untuk bergabung, di perbincangan itulah aku mengetahui bahwa pimpinan rombongan tersebut bernama Cebolang, Ia bercerita banyak akan pengembaraan mereka ketika menghibur di berbagai negeri lintas benua. Yang membuatku tertarik adalah ketika mereka dipanggil untuk menghibur Raja Naga Glaurung, mereka menghibur dengan bayaran kebebasan mereka sendiri. Dikisahkan saat itu mereka melintas di celah pegunungan kabut, namun karena ketidaktahuan mereka akan siapa yang menguasai daerah tersebut, akhirnya mereka ditangkap oleh para naga dari kerajaan naga pegunungan kabut.
Rombongan Cebolang ditangkap oleh divisi patroli dengan pemimpin Smaug Nafas Es, naga ini mengepalai naga berjenis elemen es. Saat rombongan Cebolang memasuki wilayah kekuasaan Raja Naga Glaurung mereka ditanya apa yang bisa mereka persembahkan untuk sang raja naga, namun mereka tidak bisa mempersembahkan apa-apa karena saat itu rombongan Cebolang sedang menuju ke Dol Gudur untuk menghibur Tuan Sauron Artano dan belum mendapatkan bayaran. Karena diwajibkan untuk semua yang melintasi wilayah raja naga harus memberikan persembahan sekantung kepingan emas murni. Raja Naga Glaurung sangat suka emas, emas-emas ini dijadikan sebagai alas tidur dan singgasananya yang megah.
Karena rombongan Cebolang tidak bisa mempersembahkan sekantung kepingan emas, maka Smaug Nafas Es langsung menyemburkan nafas esnya, dan yang terjadi tiba-tiba semua anggota rombongan tangannya terikat oleh es misterius. Mereka digiring untuk menghadap sang raja naga yang telah mengetahui kedatangan mereka hanya dengan sekali endus. Dihadapan sang raja naga mereka diperintahkan untuk menghibur sang raja naga, jika sang raja naga puas maka mereka akan diperkenankan untuk melanjutkan perjalanan tanpa syarat apapun. Pentas hiburan dipersiapkan lalu hiburanpun berlangsung hingga selesai, namun alhasil sang raja naga tidak puas. Karena ketidakpuasaan sang raja naga maka mereka akan disantap.
Akan tetapi hal ini dicegah oleh Ibu Suri, Ibu Suri yang turut serta menonton pagelaran hiburan tersebjut merasa puas dan mereka layak untuk dilepaskan. Namun dengan syarat ketika pulang dari Dol Gudur rombongan Cebolang harus pulang melalui celah pegunungan kabut dengan membawa Ciu Cangkol yang dibuat di desa Bekonang yang terletak dipinggiran Dol Gudur, minuman ini adalah kesukaan Ibu Suri. Sementara di singgasananya sang Raja Naga Glaurung hanya diam dan menahan kesal karena tidak bisa menyantap rombongan Cebolang, bagaimanapun juga sang raja naga adalah anak yang baik dan patuh terhadap orang tua, sebab itu sang raja naga tidak bisa membantah titah Ibu Suri. Dan Cebolang menyanggupinya, Ia lalu kembali melanjutkan perjalanan dengan diantar oleh Smaug Nafas Es hingga gerbang kerajaan.
Cerita Cebolang di pegunungan kabut berakhir, dari dalam sebuah tas besar Ia mengeluarkan 3 buah botol minuman, tidak salah lagi ini adalah Ciu Cangkol alias Arak Bekonang yang terkenal itu. Ini adalah sisa dari yang kami persembahkan ke Ibu Suri 6 bulan yang lalu tukas Cebolang, segera dituangkannya ke gelas-gelas kami, lalu Cebolang mengangkat gelas tinggi-tinggi seraya berteriak dalam bahasa Sindarin “Ramaloke Wilwarin” (naga berhati kupu-kupu) dan Fingolfin pun membalas dengan “Elen sila lumenn omentilmo” (Bintang akan selalu bersinar disetiap pertemuan kita), akupun menyahutinya dengan “Tenna ento lye omenta” (Hingga pertemuan kita selanjutnya). Teriakan Cebolang kupahami sebagai rasa terima kasihnya yang mendalam terhadap sang Ibu Suri naga yang telah bermurah hati terhadap mereka.
Dari meja dekat jendela duduk dua orang yang memperhatikan kami dan nampaknya mereka tertarik kepada Ciu Cangkol milik Cebolang, sosok itu satu lelaki dan satu perempuan. Cebolang mengundang mereka untuk bergabung sambil mengeluarkan 2 buah botol lagi dan mereka bergabung bersama kami, lalu mereka memperkenalkan diri; Malika Hamoudi sang wanita dan Marmoyo sang lelaki. Dan kami larut dalam pembicaraan ringan hingga satu persatu pamit meninggalkan kedai itu menuju penginapan Kuda Menari di seberang jalan untuk beristirahat. Kini semua telah meninggalkan kedai itu menuju penginapan termasuk kami.
-bersambung jika saya mood menulis-
Referensi Tokoh :
Serat Centhini
Trilogy The Lord of The Rings
The Silmarillion
The Hobbit
Puisi Acep Zamzam Noor
Norse Legend